Cerita sekilas, tadi pagi berangkat dari kampung halaman, Jember tercinta, ke Surabaya, bawa mobil sendiri. Di Pasuruan, bertemu dengan konvoi tentara baju doreng, ngga tau dari korps mana. Konvoi tersebut berjalan dari arah lawan, dan memakan jalan saya. Mobil-mobil di jalur saya harus menepi dan memberikan jalan pada konvoi yang ngga jelas maksudnya. Kita sama-sama bayar pajak kendaraan seharusnya sama-sama berhak memakai jalan, tapi itulah kenyataan yang tadi pagi terjadi. Lucu kan ![]()
Hmm… Kemarin baru lewat di jalan Panjang Jiwo, Surabaya. Waktu itu pas di pertiggaan, jadi ada jalan lurus besar, kemudian ada lampu lalu lintas dan ada pertigaan ke kanan. Kalau berdasarkan marka pada jalan, ada 3 lajur. Lajur kiri adalah khusus untuk yang lurus, jalur tengah bisa lurus bisa belok, dan jalur yang paling kanan hanya untuk khusus belok saja.
OK, akhir-akhir ini ramai sekali DPR menyuarakan interpelasi. Ini terkait dengan pemerintahan SBY yang menyetujui Resolusi 1747 PBB, yaitu mengenai sanksi yang diberikan pada Iran akibat melanjutkan proyek nuklirnya. Memang Iran sudah menyatakan dengan lantang, bahwa proyek nuklir mereka adalah untuk tujuan damai, tidak membahayakan dunia. Tetapi tetap saja toh akhirnya vonis sanksi diterima oleh negara tersebut. Sikap Indonesia yang menyetujui sanksi ini mengundang reaksi keras di dalam negeri, bahkan DPR repot-repot mendatangkan presiden untuk menjawab interpelasi. Apa sih gunanya ribut-ribut dalam negeri?
Lagi-lagi sebagian masyarakat menunjukkan kekurang kerjaan mereka, dan mencari-cari kambing hitam untuk disalahkan. Sempat muncul berita bahwa ada korban akibat meniru aksi-aksi brutal Smack Down. Harus diakui, Smack Down memang mengandung unsur kekerasan, tetapi kalau sampai ditiru, bukan TV-nya aja donk yang salah, ortu yang punya anak itu juga kan? Masak anak sendiri ga bisa ngurus? Apa guna kata-kata “mendidik” diciptakan kalo begitu?
Beberapa waktu lalu di Surabaya ada sebuah organisasi angkutan baru, khususnya penyedia jasa taksi, yaitu taksi O**** (sensor). Mereka hadir dengan warna yang begitu meriah, sehingga kita pasti tahu, taksi apa itu. Sebenarnya, taksi-taksi ini hadir dengan gaya pelayanan baru, di satu sisi, saya puas, di sisi lain, saya benar-benar menyesalkan tindakan para sopir taksi ini.
Ya, seperti yang telah kita ketahui bersama, baru saja 1 Oktober yang lalu (tepat seminggu yang lalu), dilaksanakan kebijakan pemerintah untuk mencabut subsidi BBM. Harga bahan bakar menjadi melonjak secara luar biasa, hampir 2 kali lipat. Harga premium yang semula hanya Rp 2.400/liter menjadi Rp 4.500/liter. Begitu pula harga-harga bahan bakar lainnya.
Kenaikan luar biasa ini tentunya memberikan dampak yang sangat luar biasa. Demo-demo terjadi di sana sini, protes-protes dan kecaman pun muncul dari berbagai pihak. Saya sendiri sebenarnya kurang setuju, akan lebih baik menurut saya jika BBM dinaikkan secara bertahap. Mungkin bisa dinaikkan 10% - 20% per bulan hingga mencapai harga yang diinginkan sehingga kenaikan tidak terlalu drastis seperti yang terjadi saat ini.


