Saya menjadi agak bingung akhir-akhir ini… Belajar di kampus jadi begitu aneh dan membosankan. Saya ingin bertanya kepada para pembaca, sebenarnya cara belajar yang paling baik itu bagaimana ya? Apakah saya harus belajar mati-matian, santai saja, belajar semua yang ada di buku-buku sampai hafal, atau ada cara lain.
Menurut saya, untuk belajar, kita mulai saja dengan menguasai dasarnya. Setelah paham dasarnya, pasti kita bisa mengembangkannya dengan penalaran kita. Kemudian, kalau kita butuh ilmu tersebut barulah dipelajari secara mendalam. Sedangkan yang “BELUM”, saya bukan bilang “TIDAK”, yang “BELUM” dibutuhkan ya dikuasai dasarnya saja, kemudian akan diperdalam lagi pada saat yang tepat. Kenapa saya berpikir demikian? Menurut saya, manusia itu ada batasan dalam mengingat, ibaratkan sebuah ember, kalau diisi melebihi batas sekaligus, pasti tumpah, begitu pula dengan ilmu.
Nah, di perkuliahan sekarang, ada beberapa mata kuliah di mana saya diharuskan membaca dan menghafal keseluruhan buku. Ini luar biasa buat saya, kalau saya SD atau SMP, it’s OK. Buku SD dan SMP masih relatif tipis, 1 babnya mungkin 20 halaman saja. Sedangkan buku kuliah, tebalnya ada yang mencapai 300 halaman, bahkan lebih. Nah, kalau sekarang saya mengambil 8 mata kuliah, lalu bagaimana saya menghafal semuanya? Apakah semua itu perlu dihafalkan? Bukankah kalau teori kita bisa lihat di buku, kalau teori juga harus dihafal, lalu apa gunanya saya beli buku itu donk? Akhirnya toh juga harus dihafal. Apa kalau besok kerja kita tidak boleh buka buku? :p
Ya menurut saya ini aneh, kalau begini caranya, waktu kita 24 jam akan habis, pagi sampai sore kuliah di kampus, kemudian sepulang kuliah menghafal semua isi buku, wah kapan kita mau pergi keluar, nonton bioskop, mengunjungi toko buku buat beli bahan untuk dihafal aja ngga sempat mungkin :D. Nah, berdasarkan dua pertimbangan, antara opini saya dan opini kampus ini, menurut para pembaca mana sih yang lebih sesuai?
NB : Di sini ngga ada opini yang salah atau yang benar, hanya mana yang lebih cocok bagi pembaca.



March 27th, 2006 at 8:01 pm
experience is the best teacher
May 4th, 2006 at 3:58 pm
hehe…kalo itu sih..gue juga mengalami.Semester akhir ini gue dapat satu dosen ngajar dua mata kuliah (sekaligus pembimbing skripsi gue). Gaya ujiannya buat kedua mata kuliah itu sama…bahannya pun dari buku-buku yang sama..metode ngajarnya pun sama, setiap pertemuan dua orang murid presentasi dan diskusi kelas. jadi yang ngajar dan menyampaikan bahan juga mahasiswa (walaupun yang provide buku dosennya). Dan gue kuliah komunikasi, bahan-bahannya in English semua. jadilah kedua mata kuliah tersebut ‘terjemahan bahasa Inggris untuk buku-buku Komunikasi Massa’. Yah yang namanya kuliah..ya..gitu deh. Sabar aja yah….kalo boleh bagi saran sih…jalanin aja, yang penting lulus…eh dapet ijazah.cari ilmu kan gak cuma dari sekolah.hehehehhehehe…..Maap kalo terlalu menggurui (soalnya gue pernah ngajar TK…ups)
February 3rd, 2007 at 1:33 pm
Memang kalau ngomongin yang namanya belajar bikin pusing deh……disatu sisi sistem pendidikan kita kalau dalam ujian soal soalnya harus dijawab dengan bahasa baku sesuai dengan yang ada di buku cetak….sementara kalau kita hapal buku buku itu bisa bisa kepala bisa botak and bisa jadi senewen jadinya…..
bagi saya yang namanya belajar itu tidak harus menghapal buku buku yang tebal aja nggak kepalang tanggung,,,,,,,yang penting kita ngerti maksud dari yang dijelakan dalam setiap kalimat didalamnya. bukan kah pengertian belajar itu adalah suatu proses dari sesuatu yang tidak tahu menjadi tahu …..? apa pun yang dulu nya kita tidak tahu terus menjadi tahu itulah yang menurut saya belajar….dan dari tidak tahu menjadi tahu itu tidak hanya harus di dalam buku ,,di sekolahan yang megah dan mewah, tapi bisa dijalan, di desa atau pun ditempat kumuh sekalipun…nggak perlu dengan pak dosen, pak professor, pak dokter,,,tapi juga belajar bisa dengan petani , nelayan , buruh atau profesi yang lainnya
gimana menurut rekan rekan sekalian…….?
salam dari kepulauan simeulue dinegeri aceh yang permai dan indah…..
February 14th, 2007 at 12:01 pm
Setuju, tapi pendidikan di sini tidak mengenal istilah itu. Kayaknya sebagian metode pengajaran teori adalah menghafal dan menghafal.